Halo! Selamat
menjalani ibadah Ramadan 1446 H bagi teman-teman yang menjalankan. Kali ini aku ingin
mengeluarkan sekelumit pikiranku tentang menjalani pekerjaan sebagai dosen.
Tahun ini adalah tahun ke enam aku bekerja sebagai dosen. Banyak pengalaman berharga
yang aku pelajari baik secara personal maupun profesional termasuk tentang membantu
menyusun kurikulum baru, mengurus administrasi, membuat dan mengampu mata
kuliah baru. Sebelumnya mata kuliah yang menjadi kompetensiku adalah Komunikasi
Lingkungan dan Kebencanaan. Namun, karena pergantian kurikulum, keduanya harus
hiatus dulu selama tiga semester. Sebagai gantinya aku mengampu mata kuliah
baru bernama Penjenamaan Diri (Personal Branding) dan Kemampuan Wicara
Publik dan Presentasi. Beruntungnya, keduanya masih ada dalam domain pengalaman
dan kompetensiku. Ini juga sebetulnya yang mendorongku untuk terus mengembangkan
diri dan belajar. Karena rupanya masih banyak yang belum aku ketahui. Dan semakin
banyak belajar, semakin tahu bahwa ternyata banyak yang aku tidak ketahui.
Oh ya, lima tahun
telah berlalu dan nyatanya menjadi dosen merupakan pekerjaan paling lama yang
aku jalani. Dulu aku sempat khawatir aku memiliki commitment issue, tapi
rupanya tidak. Menjadi dosen mengalahkan hubungan kerja terlamaku saat menjadi
jurnalis. Aku lulus tahun 2011 dan langsung bekerja sebagai jurnalis TV sampai
2016 sambil menyelesaikan magister gelar ganda di Belanda. Aku pernah bekerja
sebagai Jurnalis TV selama empat tahun di satu-satunya stasiun TV publik di
Indonesia dan aku belajar banyak tentang produksi berita, reportase, dan wicara
publik, walaupun dalam peta lulusan kampusku dulu, jurnalis bukanlah luaran
lulusan utama. Setelah lulus magister di Belanda tahun 2016 yang juga tidak
linier dengan pendidikan dan pekerjaanku sebelumnya, aku memutuskan untuk
menjalani jeda karir di Australia sampai dengan 2019. Selama jeda karir itu aku
menjalani pekerjaan macam-macam yang menjauhi bidang keilmuan dan kompetensi
kerjaku. Tiga tahun lamanya aku bekerja macam-macam, mulai dari tukang bersih
kamar, tukang bikin kopi, tukang parkir kendaraan, tukang sushi, tukang kebab,
tukang setok barang di supermarket, tukang menulis lepas, tukang korespondensi
kanal berita, tukang menerjemah, tukang asisten peneliti, dan tukang sampingan
lainnya yang mungkin tidak tersebut. Sebagian besar pekerjaan yang aku jalani
di Australia tidak membutuhkan ijazah magister. Hanya membutuhkan doa
orang tua dan kemampuan bertahan hidup. Beberapa temanku menyebutkan aku
buang-buang waktu dengan melakukan jeda karir karena tidak sesuai dengan latar
belakang, renjana, dan sekembalinya ke Indonesia aku harus mengulang karirku
dari awal. Tapi aku percaya tidak ada yang sia-sia. Aku banyak mendapatkan
pelajaran dan pengalaman hidup dari jeda karirku di Australia. Sekembalinya ke Indonesia,
tak ada di benakku saat itu untuk bekerja sebagai dosen. Jurnalisme dan
pemberdayaan komunitas adalah renjanaku yang utama (selain lingkungan, wicara
publik, dan mistisisme). Sampai akhirnya tahun 2019 aku meneguhkan hati bekerja
sebagai dosen. Beruntungnya, bekerja sebagai dosen bisa menjadi wadah bagiku
untuk memenuhi renjana yang aku nikmati bersama naik dan turunnya hidup ini.
Dan aku bersyukur atas hal ini.
Ada tiga hal yang
menjadi refleksiku menginjak tahun ke enam aku bekerja sebagai dosen ini.
Pertama, ada adagium yang mengatakan ‘those who cannot do, teach’. Adagium
ini selintas terdengar benar, tapi setelah berkecimpung di dunia pendidikan,
adagium ini ternyata cukup misleading. Aku belajar dari mahasiswaku
bahwa teori dan konsep yang kami bahas di kelas perlu kami terapkan di
kehidupan nyata. Misalnya, aku tidak bisa berkoar-koar tentang mengasah high-impact
public speaking skill jika kenyataannya kemampuan wicara publikku masih
nihil. Aku juga tidak bisa berkoar-koar tentang empati dan komunikasi interpersonal
jika kemampuan bicaraku dengan orang lain masih sering menimbulkan konfilk dan
kesalahpahaman. Aku tidak bisa berkoar-koar tentang komunikasi lingkungan jika
nyatanya kehidupanku jauh dari praktik hidup ramah lingkungan. Komunikasi bukan
latar belakang pendidikanku, tapi aku bisa mengaitkan secara erat teori dan
konsep dalam bidang tersebut ke dalam pengalaman-pengalamanku sebelumnya. Itu
juga yang mendasari aku menyenangi mempelajari Komunikasi Lingkungan hanya
karena aku senang menjalin hubungan dengan alam dan menghormati alam sebagai
bagian yang setara dalam semesta ini. Menurutku pendidikan itu sama seperti
gerakan lingkungan. Harus dilakoni dari diri sendiri terlebih dahulu.
Berbicara mengenai
pendidikan dan gerakan lingkungan membawaku pada hal kedua: pendidikan. Lima
tahun bukanlah waktu yang lama menjadi dosen dibandingkan dengan kolegaku. Aku
masih perlu banyak belajar (dan juga sekolah lagi). Tapi berdasarkan
pengamatanku, pendidikan, sama seperti gerakan lingkungan, tidak terlepas dari
perjuangan kelas. Dan rasanya perjuangan kelas hanya akan jadi hipokrisi belaka
tanpa upaya manifestasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik pendidikan
maupun gerakan lingkungan lebih dibebankan kepada masyarakat kelas pekerja. Dalam
masyarakat industrial dan kapitalis, ijazah menjadi kunci yang membuka pintu
peluang-peluang pekerjaan khususnya bagi kelas pekerja. Begitu pula kelas
pekerja yang terkena dampak paling signifikan atas kerusakan lingkungan,
perubahan iklim, dan pemanasan global. Masyarakat kelas menengah ke atas dan
elit politik bisa menggunakan mobil mewah dan terbang dengan pesawat kelas
pertama atau berinvestasi pada industri masif dengan sampah kemasan yang di
luar tanggung jawabnya, sementara kelas pekerja harus menggunakan kendaraan
umum dan berjuang mengurangi sampah plastik supaya agar rumah yang tidak
dimilikinya itu tidak tergenang banjir. Pendidikan pun demikian. Dosen dan guru
harus rela dicap sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dan hidup seadanya dengan
tanggung jawab yang begitu besar. Pendidikan dan gerakan lingkungan harus
memihak kelas pekerja dan masyarakat rentan. Jika kita datang dari kelas
menengah bawah dan bekerja sebagai dosen ataupun guru, tagar #janganjadidosen
menjadi relevan.
Tahun lalu sempat
ramai dan viral tagar #janganjadidosen di media sosial. Banyak yang menyuarakan
kesejahteraan dosen (khususnya dosen PTN) yang tidak setara dengan beban kerja
dan tuntutan kerjanya. Beberapa dosen PTS juga menyuarakan aspirasinya yang
sama. Bahkan beberapa ada yang membagikan slip gajinya di media sosial agar
orang-orang bisa polemik yang dihadapi pendidik. Potret ini terjadi di ragam
tingkatan pendidikan, termasuk guru. Persoalan ini membutuhkan solusi dengan pendekatan
yang sistemik yang membutuhkan ikhtiar berkelanjutan. Biasanya pendidikan dan
lingkungan menjadi bahasan menjelang kampanye dan debat politik. Tapi praktisnya,
keduanya sering kali disepelekan dan direduksi menjadi ‘risiko pekerjaan’ atau ‘pekerjaan
yang mulia’. Menjadi guru dan aktivis lingkungan adalah sebuah dedikasi tanpa
tanda jasa.
Dalam enrollment
rates di universitas, Indonesia memiliki tren meningkat tiap tahunnya. Dalam
laporan OECD ‘Reviews of National Policies for Education: Education in
Indonesia – Rising to the Challenge’ disebutkan Indonesia telah berkembang
secara signifikan dalam mengekspansi akses pendidikan ke daerah-daerah, tapi
belum bisa menyelesaikan tantangan besarnya: akses merata bagi masyarakat
rentan, luaran pembelajaran yang memberdayakan, dan penguatan tata kelola pada
sektor pendidikan termasuk kesejahteraan pendidiknya. Sepertinya agak naif jika
menyebutkan pendidikan adalah pilar bangsa, tapi kesejahteraan pendidiknya
diabaikan. Padahal, UNESCO telah menetapkan pembelajaran sepanjang hayat dan
pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan sebagai pilar pendidikan utama tiap negara.
Selain itu, dalam pembukaan UUD 1945, tujuan luhur bangsa kita ini katanya
terlihat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 pun
ditegaskan setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia. Ditambah lagi dalam pasal 31 ayat (1) UUD
1945, setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Secara konstitusional pendidikan
adalah bagian dari kehidupan bangsa, termasuk sarana dan prasarana, akses serta
sumber daya manusianya. Melihat potret hari ini, menagih kehadiran pemerintah
dalam pendidikan dan lingkungan rasanya hanya akan membuat diri ini patah hati
yang ke sekian kali. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari ini nanti masyarakat
rentan tidak perlu khawatir bagaimana mengakses pendidikan dan mencari
pembiayaannya. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari nanti pendidik di Indonesia
tidak perlu mengkhawatirkan kesejahteraannya dan bisa fokus total pada tugasnya
mendidik.
Hal ketiga, aku sadar
aku tidak hidup di dunia yang ideal. Selain orang yang benar-benar beruntung dalam
hidup, aku rasa kita tidak bisa memiliki semuanya. We simply cannot have it
all. Mungkin itu kenapa hidup adalah pilihan. Klise, tapi kadang-kadang
betul juga. If life is about suffering, let us choose the suffering we like
the most.
Menjadi dosen sama
halnya dengan bekerja di sektor-sektor lainnya. Aku bisa mengatakan dengan
bangga bahwa sebagai jurnalis, aku buruh. Sebagai dosen, aku tetap buruh. Aku
tidak ingin membandingkan kesejahteraan dosen dengan negara maju yang aku
ketahui seperti Belanda, Jepang, ataupun
Australia, tapi aku ingin mengutip beberapa buku yang bisa menjadi refleksi
kritis dari pendidikan di era neoliberal. Di Leo dalam bukunya ‘Higher
Education under Late Capitalism: Identity, Conduct, and the Neoliberal
Condition’, Di Leo menyebutkan bahwa neoliberalisme memengaruhi identitas
pribadi dan perilaku sivitas akademis perguruan tinggi. Pendidik dikondisikan
memiliki ‘academic habitus’ yang memperlambat gerakan dan reformasi pendidikan terlepas dari banyaknya
ketidakpuasan dengan hasil pendidikan, manajemen, regulasi, politik praktis, dan
kondisi ekonomi perguruan tinggi. Meminjam teori Bourdieu tentang habitus, Di
Leo mengkritik ‘academic habitus’ sebagai kekuatan (atau kekuasaan) yang
membentuk ekspektasi publikasi, tenur, batasan keilmuan, dan politik di
pemerintah yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. Di Leo meneliti dan
mengkritik sistem perguruan tinggi di Amerika Serikat, tapi sepertinya di bawa
neoliberalisme, pendidikan di mana pun mengalami tantangan yang sama.
Sebelum berangkat
ke Australia, aku bertemu salah satu sahabatku saat S2. Kami berdiskusi dan aku
bilang padanya, aku mau jeda karir ke Australia untuk rehat sejenak dari
pekerjaan dan penelitianku. Sahabatku itu berkelakar, “Jangan terlalu lama
kaburnya. Kamu dari SMA sampai S2 sekolahnya pakai beasiswa. Itu uang rakyat.
Nanti di akhirat bakal ditagih sama seluruh rakyat Indonesia.” Setelah aku
pulang ke Indonesia, aku mengerjakan beberapa proyek di bidang pendidikan dan
lingkungan sambil mencoba melamar menjadi dosen. Kala itu aku melamar sebagai
dosen paruh waktu karena aku sedang menangani beberapa proyek di Jakarta dan
Sumba Timur. Setelah melamar daring, aku dipanggil untuk wawancara dan microteaching.
Dalam wawancara, beberapa dosen (yang kini menjadi seniorku) berkata, “Pengalaman
pekerjaan dan latar belakang pendidikan Kang Pradip menarik. Udah, jadi dosen full
time aja ya.” Aku hanya bisa menjawab, “Kalau saya cocok dengan kriteria
dan syarat yang dibutuhkan, saya bersedia.”
Setelah menyelesaikan
kontrak proyekku, aku memulai pekerjaanku sebagai dosen. Memulai penelitian dan
mata kuliah yang berkaitan dengan Komunikasi Lingkungan, komunitas, dan wicara
publik, sambil bersepeda ke kampus, berdiskusi di kelas, belajar dari
mahasiswa, dan merefleksikan apa yang telah aku alami menjadi perjalanan intim
bagi diriku sendiri. Aku mafhum betul bahwa di perguruan tinggi di Indonesia, pendidikan
linier menjadi salah satu syarat mutlak untuk berkarir menjadi dosen. Tentu ada
suka dan dukanya; naik dan turunnya. But here I am, five years later,
thriving.
Tentunya lima tahun
ini menjadi pijakan kuat bagiku untuk terus belajar dari siapa pun dan dari
mana pun. Mungkin peranku masih kecil, tapi aku bersyukur pelan-pelan aku bisa membawa
perubahan pada diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Menjadi dosen
adalah caraku merawat harapan, tidak hanya untuk generasi yang akan datang,
tapi juga diri sendiri bahwa hari-hari yang lebih baik itu akan segera datang.
Comments
Post a Comment